I Don't Like My Birthday
Apa cuma aku yang merasa berat saat hari ulang tahunku tiba?
Satu
hari sebelum hari ulang tahun. Mengingat bahwa besok aku akan berulang tahun,
rasanya seperti menunggu sebuah beban yang hadir esok hari. Fenomena hari ulang
tahun, tidak lepas dengan hal – hal seperti ucapan selamat ulang tahun yang
memenuhi ruang media sosial, pesan pesan “mention you in their story” sebagai
tanda ada ucapan selamat ulang tahun dari yang terdekat. Tapi, bukankah itu
hanya berlaku pada sebagian orang? Tentu, ada yang memilih untuk tidak ikut
berperan dalam kebiasaan itu, atau.. ada
yang ingin namun tidak bisa mendapatkannya. No, bukannya dia tidak punya teman.
Maybe, tidak cukup dekat untuk bisa mendapatkan “pesan” itu. Sebenarnya bukan
suatu hal yang harus dipermasalahkan. Tapi, kalau bicara soal hati, ada setitik
harapan “ingin sama seperti yang lain”
Dia
turut merayakan ulang tahun temannya, memberikan ucapan selamat ulang tahun,
memberikan surprise kue ulang tahun, atau sekecil kado. Lalu, terbentuk sebuah
harapan untuk bisa mendapatkannya hal yang sama saat harinya tiba. Pikirannya
mulai mengira-ngira saat hari ulang tahunnya tiba nanti.
Bukan
menuntut sebuah balas budi.. tapi secuil keinginan kepada orang-orang untuk dapat
mengingat hari ulang tahunnya saja sudah lebih dari cukup. Lebih dari cukup
untuk tau, bahwa mereka diluar sana masih menaruh perhatian pada sosok yang
berharap pada hari ulang tahunnya ini.
Mengingat
di tahun-tahun sebelumnya, hingga saat umurnya yang kesekian, ia ingat betul
kado pertamanya saat kecil. Semakin ia tumbuh, tidak ada hal-hal seperti itu lagi
dan hanya mengingat betapa bahagianya ia saat itu. Namun, ia tidak yakin, kapan
ia akan mendapatkannya lagi.
Aku
benci ketika diriku di jam 00.00 atau saat mataku terbuka di pagi hari menunggu
ada notifikasi masuk yang berisi ucapan selamat ulang tahun untukku. Aku benci
pikiranku ketika selama satu hari, otakku dipenuhi dengan “siapa saja yang akan
mengucapkannya hari ini”.
Aku
berharap, tapi rasanya tidak ingin berharap. Aku sadar bahwa aku cukup untuk diam
dan berdoa untuk diri sendiri di hari ulang tahun dan mencatat mimpi-mimpiku
yang harus aku wujudkan di umur yang baru. Tanpa harus memikirkan dan menunggu
apa yang aku sebut “perhatian” itu.
Komentar
Posting Komentar